Skip to content

Blog-nya Faisal Sagala

.: Isi hati dan pikiran tercurahkan di sini! :.

aiKeberhasilan seorang Guru / Dosen terlihat ketika mereka mampu mengantarkan siswa/mahasiswa-nya ke gerbang kesuksesan dalam bentuk penguasaan kompetensi,  baik itu pada proses maupun hasil akhir dari kontrak perkuliahan. Artinya, mereka mampu membawakan materi dengan baik sehingga kandungan yang ada terserap dengan baik oleh siswa-nya. Hal ini karena mereka mampu memposisikan diri mereka sebagai mahasiswa ketika mereka sedang mengajar dan bukan sebagai seorang yang ingin diakui kepintaran-nya oleh mahasiswanya karena itu akan mengikuti dengan sendirinya ketika setiap materi ilmu yang diucapkan atau dijelaskan mampu disampaikan dengan bahasa ‘ke-awaman’ dan diterima dengan baik oleh mahasiswa yang mungkin baru menerima materi tersebut. Dari pengamatan saya dan meminta komentar feedback dari teman seprofesi, 5 orang dosen yang menyampaikan materi perkuliahan, hanya 1 yang benar-benar memiliki ’sense’ yang mampu men-transfer ilmunya dengan baik dan jelas karena mengetahui positioning kemampuan anak didiknya terhadap materi yang hendak diajarkan.

Orang cerdas yang mampu sebagai guru yang baik maka  dia harus mampu mengakomodir kebutuhan semua anak didiknya dengan cara dan metode yang ampuh tentang bagaimana cara menjelaskan atau mentransfer ilmunya kepada orang lain sehingga orang lain-pun dapat menguasai kemampuan tersebut. Dengan kata lain, guru tipe ini mampu menduplikasi kemampuannya kepada orang lain. Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa hanya 20% dari tipikal guru/dosen yang dapat sebagai guru yang baik dan tentunya guru ini sudah terbukti kecerdasannya karena sudah diakui dalam skala nasional maupun internasional. Akan tetapi, bagaimana dengan yang 80%-nya yang juga diakui kecerdasannya secara nasional dan internasional tapi tak mampu men-transfer ilmunya dengan baik ke mahasiswanya? Inilah tipe guru/dosen yang egois yang kurang peka dan rendahnya kemapuan deteksi kebutuhan mahasiswanya. Dosen yang hanya mampu mengkonsumsi ilmu buat dirinya sendiri dan menganggap mahasiswa bisa belajar sendiri dari ketidaktahuannya dari apa yang disampaikan olehnya. Ngerti ga ngerti –hajar bos! yang penting materi dan jumlah pertemuan selesai, kontrak perkuliahan selesai, dan honor ngajar-pun diterima tanpa rasa bersalah!. Ter-La-Lu.
Ternyata, kalau ditelaah, walaupun kita berada pada jalur sebagai pendidik, kita harus memiliki empati dan rasa bersalah yang tinggi bila siswa kita tak mampu menguasai apa yang sudah kita sampaikan. Dan bila ternyata setelah uji komptensi ternyata hampir di atas 75% siswa tak mampu menyerap apa yang disampaikan, seharusnya kita sadar pasti ada yang salah dengan cara, gaya, metode, kepekaan kita dalam mengajar. Atau memang sebenarnya kita tidak jujur pada diri sendiri bahwa ada materi yang memang kita sendiri belum tahu persis akan kebenarannya tetapi karena itu merupakan bagian dari sub materi sehingga mau tidak mau dan  seolah-olah seperti dipahami lalu disampaikan dengan “bahasa susah” sehingga siswa pun terbenong-bengong karena takjub dengan ketidakmengertian apa yang disampaikan.

Kalau boleh men-generalisir data, jangan sampai-lah 80% guru-guru dan dosen kita tak sadar akan ‘kekhilafan’ nya sebagai pengajar, karena ini bisa menjadi bahaya laten bagi kemajuan sebuah bangsa dimana guru-guru-nya tak mampu memberikan dan menghasilkan yang terbaik bagi anak didiknya sehingga ujung-ujung-nya lulusan siswa-nya tak mampu bersaing secara global. Bila prosentse ini bisa dibalik, saya yakin Indonesia akan mendulang emas dikemudian hari karena mampu mencetak orang-orang cerdas dengan keseragaman yang tinggi karena dapat mentransfer ilmunya dengan baik. Oleh karennya bagi guru yang belum termasuk golongan ini ada baiknya mencoba mulai merubah gaya, cara, dan metode-nya mulai dari hari ini agar disenangi dan dibutuhkan oleh siswa/mahasiswa-nya bukan karena ‘keterpaksaan’ karena masuk dalam sistem tetapi karena ‘memang benar-benar dibutuhkan’ karena kemampuannya dalam mengajar dan menularkan kemampuannya kepada orang lain. Bukankah ilmu yang bermanfaat yang diajarkan merupakan ladang ibadah yang tak putus-putusnya walaupun kita telah ditelan bumi? Oleh karenanya berikanlah ilmu yang dapat dimengerti oleh anak didik dengan cara-cara yang bisa dimengerti sehingga dapat bermanfaat bagi anak didik dikemudian hari. Amin!

Bookmark and Share:

Hari Mingggu sore aku berangkat ke Bogor untuk  mensupport laporan pertanggungjawaban kemajuan riset yang sedang kami kerjakan yang merupakan Riset Unggulan IPB yang nantinya akan menjadi proyek nasional, karena akan diimplementasikan di Indonesia. Untuk menjangkau Bogor dengan angkutan penumpang tidak semudah menjangkau Bekasi atau Jakarta yang bisa ditempuh lewat jalan tol Cipularang. Untuk menjangkau bogor satu-satunya jalan yang mau tak mau harus dilalui adalah lewat Padalarang – Puncak. Wuih….perjalanan yang cukup melelalahkan, dimana jelannya naik-turun, berbelok, rusak dan sebagainya bercampur menjadi satu membuat perjaalanan ini jauh lebih capek dari perjalanan yang biasa kulakukan ke Jakarta dan Bekasi. Tetapi atas dasar komitmen intelektual dan emosional aku tetap semangat melaluinya.

Tak terasa perjalanan lebih kurang 5 jam kulewati setelah melewati pemandangan yang cukup indah disekitar Cianjur, Ciloto, dan Puncak…alangkah indahnya ciptaanMu ya Alloh. tugukujangDi Bogor, tepatnya di hampir jam 8 malam aku dijemput di Tugu Kujang oleh temanku…dan sebelum sampai dirumah tak lupa kami membeli Sop Dulang Betawi dan Sate Kambing untuk makan malam..duh enaknya.

Setelah makan, penyakit lama (ngantuk) kambuh, tetapi karena besok jam 1 siang ada presentasi hasil riset, maka semuanya coba kuusir rasa kantuk-ku untuk memperbaiki semua sistem yang ada sampai running well.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi dan kami putuskan istirahat dan kembali bekerja pukul 4.30. Setelah shubuh menyingsing kami pun lanjutkan kerjaan hingga jam 12 siang dengan hasil yang mengembirakan semua sistem running well dan materi presentasi telah terselesaikan dengan baik.

Detik-detik presentasi tahap demi tahap kami lalui dengan mantap. Respon reviewer yang cukup antusias dan mengharapkan target implementasi bisa dilakukan pada bulan Novermber maka kami anggukkan bersama. Closing yang cukup bagus.

Akhirnya selesailah misi kami, kamipun akhirnya memutuskan tuk makan siang di Rumah makan Geulis dan sholat Ashar di Masjid Al-Huriyyah IPB dengan maksud setelah habis Sholt sudah janjian dengan kakak Kelas ‘Bang Banda’ yang sudah lama tak bertemu.
Seelah sholat kami pun berbicang tanpa terasa hampir menjelang Maghrib kami pun pulang kerumah temanku karena sehabis Maghrib bekas Pembimbing dan Kepala Lab ku mengundang makan malam disebuah restoran di Bogor yang cukup asri suasananya.

Kemi terlambat 15 menit dari janjian karena Bogor yang terkenal macat menghambat perjalanan kami. Tapi itu tak membuat kekecewaan di wajah Pak Indra. Dia menceritakakn bahwa dari 5 usulan Produk Inovasi yang telah kami buat ternyata 3 produk paling inovasi di Indonesia telah mengundang Pak Indra untuk melenggang ke Instana Negara. Kami cuku psenang dan bangga atas anugrah tersebut dan kami berharap ada efek bola salju untuk masuk dunia industri.
Disamping itu juga beliau masukan konsep2 tesis yang akan aku kerjakan yang kebetulan beliau akan menjadi salah satu Dosen Pembimbing aku.
Tak terasa waktu telah bergulir ke pukul 9 malam dan kami putuskan untuk berpisah tuk bertemu kembali di lain waktu. Aku pun diantar sampai Ciawi pukul 10 malam dan menaiki Bis Malam menuju Bandung.

Sampai Bandung pukul 2 pagi, aku naik Angkot menuju Sukajadi, dan di simpang Sukajadi aku naik Ojek ke rumah karena tak ada taksi pada jam segitu sementara kantuk hebat merasuki mataku…puffh…capeknya…akhirnya tak terasa aku sampai di rumah dengan mengucapkan Alhamdulillah Engkau telah lindungi Aku selama perjalanan pulangnya Alloh….

Bookmark and Share:

Sejak di canangkannya sekolah gratis oleh pemerintah, rasa gembira rakyat Indonesia tersungging di bibir mereka. Tapi…eitt tunggu dulu! Setelah apa yang aku alami ketika mendaftarkan anakku di salah satu SD Negeri Favorit di Kota Bandung aku agak triboys kecewa karena tidak benar-benar gratis. Padahal 3 minggu yang lalu aku dengar     langsung dari Pak Sudibyo (Mendiknas RI) kalau biaya operasional sekolah termasuk  buku-buku sekolah sudah dianggarkan didalamnya. Kedua Anakku yang diterima di SD tersebut Fauzi (3 SD) dan Firza (1 SD) ternyata harus membayar sejumlah uang untuk membeli buku paket dan buku LKS (Lembar kerja Siswa) serta baju seragam sekolah dan baju olah raga senilai di atas satu juta rupiah. Lantas aku bertanya, gratisnya dimana? Ooo… gratisnya ternyata hanya di uang SPP. Tetapi itu juga tidak sepenuhnya benar, karena setiap minggu ada juga pungutan (uang kencleng – red) alasan beli spidol, penghapus, dan ATK lainnya. Memang sih seikhlas-nya tetapi bukankah itu sudah termasuk di dalam anggaran BOS? Entahlah, memang tidak ada yang benar-benar gratis untuk  pendidikan yang katanya sudah dianggarkan 20% dari APBN. Yah, paling tidak Indonesia sudah mulai sadar pentingnya pendidikan agar Indonesia mampu bersaing dengan dunia Internasional. Sebut saja Singapura dan Malaysia yang menganggarkan untuk Pendidikan diatas 35% dari APBN mereka. Semoga Indonesia bisa mengejar kesadaran ini untuk lebih baik lagi memperhatikan dunia pendidikan sehingga Firza dan Fauzi – anakku mampu bersaing secara global kelak kemudian hari…Amiin.

Bookmark and Share:

faisalsagala Wuih…tanpa terasa 4 web udah di install walaupun masih versi default dari opensource yang ada. Liburan sekolah di ITB yang lumayan lama hampir 75% kuhabiskan waktu untuk oprek-oprek web dan projek software + hardware. Awalnya buat blog pakai Drupal tapi CMS yang satu ini menurutku kurang pas untuk digunakan pada blog sampai akhirnya kugunakan Worpress dengan theme installernya yang cukup banyak…sampai bingung pilih yang mana….karena bagus-bagus. OK, setelah itu aku coba buat lagi web untuk e-learning dengan menggunakan Moodle versi 1.8. Weleh, cukup bagus cuma belum terisi materi-materinya harus ku susun sedemikian rupa sehingga isinya ‘harus berbeda’ dengan pembelajaran di kampus ‘akademis’ yang muatan teori yang sedikit terverifikasi dengan praktek.

And then, lalu kubuat lagi web untuk forum, awalnya sih untuk diskusi dengan mahasiswa ku yang ada di medan, tapi yang datang malah dari luar negeri… forumya masih sepi :( karena belum tracking ke forum-forum yang sejenis. Dan terakhir ku buat juga e-commerce dari PrestaShop maklum ada niat jadi pedangan komponen elektronika yang rada sulit dicari seperti modul sensor, mikrokontroler, servo motor, dll dengan harapan para hobi maupun mahasiswa yang ingin menyelesaikan tugas akhir perancangan aplikasi bisa beli di sini dengan harga yang bersaing. Belum di modif tapi sudah running well. :-D . Pufhh… walaupun terasa capek ngerjainnya sampe begadang tapi puas juga karena bug-bug yang ada sudah teratasi.

Seminggu lagi aku masuk kuliah untuk semester akhir, ku berharap tesis yang sedang ku kerjakan bisa   bulan ini dapat berjalan lancar hingga awal januari. Sebagian referensi yang ku dapatkan membuat pencerahan bagiku bahwa kita tidak boleh kalah dengan negara-negara seperti Jepang, Jerman, dan Amerika. Kita juga dapat melakukannya.

Bookmark and Share: