Keberhasilan seorang Guru / Dosen terlihat ketika mereka mampu mengantarkan siswa/mahasiswa-nya ke gerbang kesuksesan dalam bentuk penguasaan kompetensi, baik itu pada proses maupun hasil akhir dari kontrak perkuliahan. Artinya, mereka mampu membawakan materi dengan baik sehingga kandungan yang ada terserap dengan baik oleh siswa-nya. Hal ini karena mereka mampu memposisikan diri mereka sebagai mahasiswa ketika mereka sedang mengajar dan bukan sebagai seorang yang ingin diakui kepintaran-nya oleh mahasiswanya karena itu akan mengikuti dengan sendirinya ketika setiap materi ilmu yang diucapkan atau dijelaskan mampu disampaikan dengan bahasa ‘ke-awaman’ dan diterima dengan baik oleh mahasiswa yang mungkin baru menerima materi tersebut. Dari pengamatan saya dan meminta komentar feedback dari teman seprofesi, 5 orang dosen yang menyampaikan materi perkuliahan, hanya 1 yang benar-benar memiliki ’sense’ yang mampu men-transfer ilmunya dengan baik dan jelas karena mengetahui positioning kemampuan anak didiknya terhadap materi yang hendak diajarkan.
Orang cerdas yang mampu sebagai guru yang baik maka dia harus mampu mengakomodir kebutuhan semua anak didiknya dengan cara dan metode yang ampuh tentang bagaimana cara menjelaskan atau mentransfer ilmunya kepada orang lain sehingga orang lain-pun dapat menguasai kemampuan tersebut. Dengan kata lain, guru tipe ini mampu menduplikasi kemampuannya kepada orang lain. Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa hanya 20% dari tipikal guru/dosen yang dapat sebagai guru yang baik dan tentunya guru ini sudah terbukti kecerdasannya karena sudah diakui dalam skala nasional maupun internasional. Akan tetapi, bagaimana dengan yang 80%-nya yang juga diakui kecerdasannya secara nasional dan internasional tapi tak mampu men-transfer ilmunya dengan baik ke mahasiswanya? Inilah tipe guru/dosen yang egois yang kurang peka dan rendahnya kemapuan deteksi kebutuhan mahasiswanya. Dosen yang hanya mampu mengkonsumsi ilmu buat dirinya sendiri dan menganggap mahasiswa bisa belajar sendiri dari ketidaktahuannya dari apa yang disampaikan olehnya. Ngerti ga ngerti –hajar bos! yang penting materi dan jumlah pertemuan selesai, kontrak perkuliahan selesai, dan honor ngajar-pun diterima tanpa rasa bersalah!. Ter-La-Lu.
Ternyata, kalau ditelaah, walaupun kita berada pada jalur sebagai pendidik, kita harus memiliki empati dan rasa bersalah yang tinggi bila siswa kita tak mampu menguasai apa yang sudah kita sampaikan. Dan bila ternyata setelah uji komptensi ternyata hampir di atas 75% siswa tak mampu menyerap apa yang disampaikan, seharusnya kita sadar pasti ada yang salah dengan cara, gaya, metode, kepekaan kita dalam mengajar. Atau memang sebenarnya kita tidak jujur pada diri sendiri bahwa ada materi yang memang kita sendiri belum tahu persis akan kebenarannya tetapi karena itu merupakan bagian dari sub materi sehingga mau tidak mau dan seolah-olah seperti dipahami lalu disampaikan dengan “bahasa susah” sehingga siswa pun terbenong-bengong karena takjub dengan ketidakmengertian apa yang disampaikan.
Kalau boleh men-generalisir data, jangan sampai-lah 80% guru-guru dan dosen kita tak sadar akan ‘kekhilafan’ nya sebagai pengajar, karena ini bisa menjadi bahaya laten bagi kemajuan sebuah bangsa dimana guru-guru-nya tak mampu memberikan dan menghasilkan yang terbaik bagi anak didiknya sehingga ujung-ujung-nya lulusan siswa-nya tak mampu bersaing secara global. Bila prosentse ini bisa dibalik, saya yakin Indonesia akan mendulang emas dikemudian hari karena mampu mencetak orang-orang cerdas dengan keseragaman yang tinggi karena dapat mentransfer ilmunya dengan baik. Oleh karennya bagi guru yang belum termasuk golongan ini ada baiknya mencoba mulai merubah gaya, cara, dan metode-nya mulai dari hari ini agar disenangi dan dibutuhkan oleh siswa/mahasiswa-nya bukan karena ‘keterpaksaan’ karena masuk dalam sistem tetapi karena ‘memang benar-benar dibutuhkan’ karena kemampuannya dalam mengajar dan menularkan kemampuannya kepada orang lain. Bukankah ilmu yang bermanfaat yang diajarkan merupakan ladang ibadah yang tak putus-putusnya walaupun kita telah ditelan bumi? Oleh karenanya berikanlah ilmu yang dapat dimengerti oleh anak didik dengan cara-cara yang bisa dimengerti sehingga dapat bermanfaat bagi anak didik dikemudian hari. Amin!
Di Bogor, tepatnya di hampir jam 8 malam aku dijemput di Tugu Kujang oleh temanku…dan sebelum sampai dirumah tak lupa kami membeli Sop Dulang Betawi dan Sate Kambing untuk makan malam..duh enaknya.
kecewa karena tidak benar-benar gratis. Padahal 3 minggu yang lalu aku dengar langsung dari Pak Sudibyo (Mendiknas RI) kalau biaya operasional sekolah termasuk buku-buku sekolah sudah dianggarkan didalamnya. Kedua Anakku yang diterima di SD tersebut Fauzi (3 SD) dan Firza (1 SD) ternyata harus membayar sejumlah uang untuk membeli buku paket dan buku LKS (Lembar kerja Siswa) serta baju seragam sekolah dan baju olah raga senilai di atas satu juta rupiah. Lantas aku bertanya, gratisnya dimana? Ooo… gratisnya ternyata hanya di uang SPP. Tetapi itu juga tidak sepenuhnya benar, karena setiap minggu ada juga pungutan (uang kencleng – red) alasan beli spidol, penghapus, dan ATK lainnya. Memang sih seikhlas-nya tetapi bukankah itu sudah termasuk di dalam anggaran BOS? Entahlah, memang tidak ada yang benar-benar gratis untuk pendidikan yang katanya sudah dianggarkan 20% dari APBN. Yah, paling tidak Indonesia sudah mulai sadar pentingnya pendidikan agar Indonesia mampu bersaing dengan dunia Internasional. Sebut saja Singapura dan Malaysia yang menganggarkan untuk Pendidikan diatas 35% dari APBN mereka. Semoga Indonesia bisa mengejar kesadaran ini untuk lebih baik lagi memperhatikan dunia pendidikan sehingga Firza dan Fauzi – anakku mampu bersaing secara global kelak kemudian hari…Amiin.
Wuih…tanpa terasa 4 web udah di install walaupun masih versi default dari opensource yang ada. Liburan sekolah di ![[Google]]( http://blog.ciftronik.com/wp-content/plugins/easy-adsenser/google-light.gif)